Tugas Fiksi

1. Tulislah tema cerita yang kamu rancang dan berkisah tentang siapa?

Tema: fiksi ilmiah (science fiction)

Tentang seorang peri glupagie berfisik seperti panda yang bekerja sebagai seorang penasihat manusia agar mereka mencegah atau menjauhi bencana alam. Namanya Kupaba. Peri-peri glupagie tinggal di inti bumi. Kali ini, misi Kupaba harus dilaksanakan dengan sangat baik. Karena kalau tidak, tanah airnya akan berdampak buruk juga.


2. Tuliskan tokoh/karakter dan wataknya dalam cerita yang sudah kamu rancang!

Tokoh-tokoh beserta wataknya:

Kupaba: tinggi hati, cerewet, tidak sabar

Nuno: agak cuek, sayang adik

Mama: agak aneh, suka cekikikan

Bos: tegas, polos

Rakyat Kkokochokoakk: fanatik terhadap Kupaba, patriotik

Penduduk Vr’ama: biasa saja


3. Buatlah orientasi dari ceritamu; cerita yang sudah kamu rancang!

Kupaba adalah seorang peri glupagie, jenis peri yang sangat mirip dengan panda, namun sama sekali bukan panda, spesiesnya juga tidak sama. Kupaba ini merupakan seorang agen dari kerajaan di inti bumi yang bernama Kerajaan Kkokochokoakk. Pekerjaan Kupaba adalah seorang penasihat manusia agar mencegah atau menjauhi bencana alam.

Kupaba sangat terkenal di Kkokochokoakk. Ia merupakan idola hampir semua glupagie di situ. Para glupagie yang nge-fans dengan Kupaba sangat menghargainya, mungkin lebih daripada sang raja.


4. Komplikasi


Sekarang, Kupaba punya misi untuk menasihati para manusia di kota Vr’ama akan Gunung Awuwi yang akan meletus terbalik (atau ke dalam), yaitu gunung yang bukan memuntahkan lava, tetapi malah mengisap benda-benda di permukaan bumi. Hal ini terjadi karena kadar karbon dioksida di permukaan bumi terlalu tinggi, sehingga menyebabkan ketidakseimbangan dengan kadar karbon dioksida di perut bumi. Bahan-bahan yang diisap gunung akan terkena magma. Kupaba dan umatnya juga takut dengan bencana ini, karena jika banyak materi masuk ke dalam inti bumi, tempat mereka juga berada, itu akan gawat.


Kemarin, di kantor Kupaba …

“Seperti gunung meletus ke dalam?” Kupaba terkejut.

“Ya,” jawab Bos dengan datar. “Gunung di kota berpolusi ini tidak akan memuntahkan lava, tetapi mengisap bumi dan benda-benda yang ada di permukaannya.”

“Tunggu, Bos tahu ini semua dari mana?” tanya Kupaba.

“Tertulis di kitab Kkokobobo, hal ini akan terjadi dalam waktu dekat ini.”

“Ohh … gak apa-apa, lah.” Kupaba menyilangkan kaki gemuknya ke atas meja. “Gitu doang. Ini kerjaan mudah, kok, Bos. Akan kuselesaikan secepat kilat.”

Bos menggebrak meja. “Mudah? Dari mana kau pikir seperti itu?” 

Kupaba menghela napas.

“Kau tahu apa yang akan terjadi kalau materi masuk ke dalam gunung, lalu ke tanah, lalu ke bawah?” tanya Bos. “Umat kita ini tinggal di inti bumi, Kupa. Materi-materi dari atas banyak sekali jumlah dan beratnya. Kalau segala benda-benda itu masuk, kita semua bisa punah.”

Kupaba tidak bereaksi. “Jangan khawatir,” katanya. “Para manusia selalu mematuhiku. Bos ingat, kan, beberapa tahun yang lalu … saat aku baru kerja di sini? Semua bencana di atas situ tuh …” Kupaba menunjuk langit-langit. “… kuurus dengan sangaaat baik. Aku tinggal naik pod yang membawaku ke permukaan bumi, keluar, bertemu manusia, lalu menjelaskan ke mereka tentang …”

“Baiklah,” potong Bos. “Tanggal 26 kau berangkat.”

“Siap, Booosss …!” seru Kupaba dengan amat lantang.


Beberapa hari kemudian …

“Semangat ya, Kupa …!” seru satu anak glupagie dengan suara imutnya.

“EEEHHH KUPA … MINTA TANDA TANGANNYA!” teriak seorang glupagie tinggi.

“Selamatkan umat peri glupagie …!” seru yang lainnya. “Jangan biarkan kita punah!”

“Kita ini peri terhebat di dunia! Mana mungkin kita bisa punah?” gumam temannya.

Beberapa glupagie yang di belakang kerumunan bersorak ramai.

Kupaba naik ke tempat parkir pod-nya. Dia melihat sekelilingnya. Ribuan peri glupagie, makhluk yang sangat mirip panda semua, memandangnya sambil menari heboh. Suasana terasa meriah sekali. Sepertinya semua glupagie muncul di situ untuk melihat Kupaba. “Sehat-sehat, ya, Glupa-Glupa-ku …!” seru Kupaba. Ia segera masuk ke pod, melambaikan tangannya dan alat transportasi itu pun melesat naik melubangi tanah di atas mereka. 

Dukkk…. Suara pod Kupaba ketika menembus tanah.

Begitu muncul di permukaan bumi, pod agak oleng, lalu berhenti. Kupaba membuka pintu yang langsung terlepas, melangkah keluar benda itu yang telah rusak parah. Ia melihat sekelilingnya, tampak gelap gulita. Kupaba pun menyalakan senter daruratnya dan melangkah dengan hati-hati. Banyak barang-barang bergeletakan di sekitarnya. Ada botol shampoo, batangan sabun, botol Windex, dan seekor kecoa yang menatapnya dengan keheranan. Kupaba terkejut dan tidak sengaja mendorong dinding di sampingnya sehingga ia terjatuh. Suasana mendadak terang-benderang. Barulah ia sadar di mana ia berada.

“Heeeh … kok malah di kamar mandi?” Kupaba mengeluh.

BRAK! Tiba-tiba pintu kamar mandi terbuka. Kupaba terkejut sekali lagi. Muncullah seorang anak laki-laki berumur sekitar 12 tahun. Tangannya tertutup lumpur. Sepertinya dia kebelet kencing. Dia melihat Kupaba yang terduduk di lantai. Mata glupagie itu membesar, membuatnya telihat imut. Anak itu mengerut.

“Shaeya …! Bonekamu ngapain di sini …?” serunya. “Nanti kotor, lho …!” Anak itu meraih tengkuk Kupaba sebelum Kupaba sempat menghindarnya.

“Ow! Sakiit …!”

Si anak terkejut dan melepaskannya.

“Eeeh … manusia! Aku ini bukan boneka, tahu!” Kupaba berdiri dan menghentakkan kaki.

Anak itu sebenarnya bingung, tapi berusaha menutupinya dengan tawa terbahak-bahak sambil menunjuk ke Kupaba. Sembari menyalakan keran, dia berkata, “Kau bisa ngomong, yah, kayak sapi tetanggaku.” Dia mengarang. Si anak melanjutkan ketawanya sambil mencuci tangan.

Kupaba menjadi semakin marah. Matanya melotot semakin besar. Tapi, kemudian dia berpikir. Tenang, Kupa, kamu harus sabar. Kamu itu ada misi di tempat ini. Kupaba menghela napas panjang, lalu berkata, “Ya, aku bisa ngomong kayak sapi tetanggamu.”

Anak itu tampak bingung.

“Perkenalkan, aku Kupaba, seorang peri glupagie, dari Kerajaan Kkokochokoakk di inti bumi,” ujar Kupaba.

Si anak mengerutkan kening. Dia memandang Kupaba, makhluk berbulu hitam-putih dengan elips hitam di sekitar kedua matanya. “Peri ‘glupagie’? Maksudmu, panda?”

“Tidak! Banyak manusia yang bilang aku mirip panda, padahal aku bukan mahkluk aneh itu!” ujar Kupaba. “Aku datang ke sini untuk menjalankan misiku, yaitu menghentikan Gunung Awuwi yang akan meletus … eh … meletus ke dalam … mengisap bumi dan segala benda di permukaannya sehingga …”

“Jadi gunungnya meletus ke dalam?” potong anak itu.

“Iya, kan, tadi aku bilang begitu,” kata Kupaba, mulai kesal lagi. “Sehingga bumi dan seluruh isinya akan punah dan terbalik luar dalam.”

Si anak menjadi makin bingung. Ia tidak tahu apakah ia harus percaya pada ‘panda’ aneh ini atau tidak. Namun, ia cuek, mematikan keran lalu keluar dari kamar mandi tanpa mengucapkan apa-apa.

“Heei …! Mau ke mana, sih?”

Pintunya telah tertutup.

Beberapa saat kemudian, si anak kembali bersama seorang wanita. Rambut wanita itu seperti rumput yang tersetrum. Celemek yang dikenakannya kusam dan bau brokoli. “Mama, lihat, Ma! Ini ada panda! Bisa bicara sendiri, bisa marah-marah pula, kayak sapi tetangga kita!”

Mama memandang Kupaba terheran-heran.

Kupaba mengeluh dan menceritakan ulang kisahnya dari awal.

“Ihh, lucu banget, ya,” ucap Mama, melompat-lompat kegirangan. Ia masih mengira Kupaba adalah mainan yang bisa bicara. “Nuno, ini mainan siapa? Mama kayak belum pernah lihat.”

“Tentu punya Shaeya, Ma,” jawab Nuno dengan cepat.

Kupaba mulai frustrasi. Ia merasa tidak didengarkan. Mengapa orang-orang ini susah sekali mempercayaiku? pikirnya. Tiba-tiba suatu ide terlintas di benaknya. “Lihat, lihat!” katanya sambil membuka pintu kabinet kecil yang berisi barang-barang kamar mandi, menunjuk pod-nya yang rusak parah. “Ini pod-ku, lho …, alat transportasiku untuk berangkat dari inti bumi sampai ke sini! Ada juga lubang besar di sini, tahu.”

“Lubang?” tanya Mama, membesarkan mata.

“Ya!” celetuk Kupaba, memperlihatkan kerusakan kamar mandi. “Ini lubang dalamnya sekitar 6400 kilometer ke bawah.”

“Ini lubang beneran?” tanyanya lagi. “Wow …” Mama benar-benar tampak terpesona. Dia mengambil sebuah botol Windex dari kabinet itu dan menjatuhkannya ke lubang. Beberapa saat kemudian, terdengarlah suara yang seperti laser. Keren sekali. Mama menganga mendengarnya. 

Tiba-tiba terdengarlah suara hape berdering. “Ehh, kayaknya ada yang nelpon saya,” kata Mama, berjalan keluar, tetapi matanya masih terfokus pada lubang. “Babay, Pandaa …!”

“Agh, sudahlah. Kalaupun kalian enggak percaya yang aku ceritakan, aku tetap mau bilang bahwa kota kalian, Vr’ama, adalah kota yang memproduksi karbon dioksida terlalu banyak,” kata Kupaba. Dia kemudian menunjuk jendela kamar mandi. “Lihat, lihat, udara di luar tampak abu-abu, motor dan bajaj-nya banyak banget. Terlalu bahaya ini.” Kupaba menggeleng-gelengkan kepala. “Kalau karbon dioksida di permukaan bumi lebih banyak dari pada yang di dalam bumi, terjadi ketidakseimbangan. Udara dari permukaan bumi bakal kesedot ke dalam perut bumi, melalui Gunung Awuwi. Dan karena udaranya kencang sekali, benda-benda di permukaan bumi, termasuk rumah, pohon, dan manusia, akan ikut terbawa masuk. Seram banget, kan?”

“Ya,” celetuk Nuno.

“Oh iya!” Kupaba bergerak tiba-tiba. “Tahu enggak, kentut sapi juga bahaya!”

“… maksud?”

“Kentut sapi menghasilkan banyak metana, setara dengan banyak karbon dioksida juga, Dek.”

“Oh,” kata Nuno dengan singkat. Ia diam sebentar, kemudian berkata, “Aku sih ngerti maksudmu dengan karbon dioksida, tapi, … masa semuanya bakal kesedot ke bumi, sih?”

“Iya, iya! Bakal kesedot. Jadi, semua orang di kota Vr’ama harus menahan napas secara serempak selama 30 detik supaya pertambahan karbon dioksida bisa berkurang dan letusan gunung ke dalam bisa dihentikan!” seru Kupaba dengan lantang. “Mudah, kan?”

“Hmm, tapi ada masalah kecil. Gimana caranya membujuk penduduk lainnya untuk melakukan itu?” tanya Nuno. 

Kupaba diam dan menatapnya dengan mata besar.

“E-eh, aku punya ide deh!” seru Nuno. “Ayo, ikut aku!”

Nuno pun berjalan ke luar rumah. Kupaba mengikutinya.

Kota itu menyedihkan sekali. Gersang. Tanah sangat retak, seolah-olah bakal terpecah kapan saja. Tak ada pohon yang terlihat. Banyak motor-motor dan bajaj yang meluncur ke sana dan ke sini. Berisik.

Di tengah jalan, banyak orang berkomentar tentang Kupaba.

“Ihh, lucu banget pandanya!”

“Ya ampun, badannya bulet, kok jalannya bisa cepat begitu?”

Semakin lama, Kupaba menjadi semakin kesal.

Sampailah mereka ke alun-alun kota. Nuno langsung menuju gong besar di pojokan, meraih sebuah tongkat yang dia lihat, kemudian memukul gong berkali-kali. TUNG … TUNG … TUNG … TUNG ….

Warga kota mulai berdatangan. Mereka saling bertanya-tanya. Ketika ruangan sudah mulai penuh, Nuno berjalan ke atas panggung dan mengambil mic. “Kakek, nenek, tante, om, adik, kakak, teman-teman sekalian, kota kita dalam bahaya.”

Suasana mendadak hening. Semua yang hadir dipenuhi rasa bingung, panik, dan ragu. Namun, ada juga yang tidak fokus pada Nuno karena heran melihat Kupaba. Sebagian orang mencoba mencuri perhatian makhluk aneh itu agar dia bisa diajak main.

“Ini Kupaba, dia akan menjelaskannya pada kalian,” ujar Nuno, memberi mic padanya. “Oh iya, nanti kalian harus menahan napas selama 30 detik yah.”

Para hadirin tersenyum-senyum melihat Kupaba yang lucu dan menggemaskan. Beberapa anak ingin naik ke panggung untuk melihatnya lebih dekat.

Kupaba mulai kesal lagi. Manusia-manusia ini menyebalkan sekali. Kupaba bukan hanya makhluk gendut, tahu. Ia bertekad akan menyelesaikan misinya, tidak peduli seberapa sulitnya. Ia mulai berbicara.

Setelah Kupaba selesai, orang-orang berkomentar.

“Masa panda begini bisa tahu semua hal itu?”

“Aku ini peri glupagie yang berasal dari perut bumi, bukan panda!” seru Kupaba.

“Tapi kamu mirip panda,” kata seseorang dari belakang.

Tiba-tiba bumi terasa mulai bergetar. Beberapa barang mulai bergerak sendiri. Barang-barang kecil terlihat melayang ke arah timur, di mana Gunung Awuwi berada. Orang-orang di balai kota mulai panik. Beberapa dari mereka mulai melayang. Beberapa lagi mulai menjerit. Angin bertiup sangat kencang. Dari jendela balai kota, terlihat seekor paus besar terangkat dari laut dan berputar-putar menuju ke Gunung Awuwi. Si paus mengeluh seperti orang sakit tenggorokan. Kasihan sekali pausnya.

5. Resolusi

Kupaba mengambil napas dalam lalu bicara lantang di mic sambil berpegangan ke kusen jendela agar tidak terbawa angin. “Ayo, semuanya! Lakukan seperti yang aku bilang tadi! Mau …, kan?”

“IYA, IYA!” seru warga.

“Dalam hitungan ketiga, ya …!” seru Kupaba. 

Sebuah rumah kosong terbang ke atas.

“Satu … dua … tiga …!”

Semua warga mulai menahan napas. Kakek, nenek, anak-anak tanpa terkecuali. Perlahan, getaran bumi mulai berkurang. Orang-orang mulai tampak biru seperti es, karena ya, cukup lama menahan napasnya. Akhirnya, getaran berhenti total, dan benda-benda yang melayang, berjatuhan kembali ke atas tanah. Tetapi, orang-orang belum berani bernapas kembali.

Setelah beberapa lama, situasi tampak aman.

“Terima kasih, semuanya … kita telah menyelamatkan kota Vr’ama dan juga para peri glupagie di perut bumi!” seru Kupaba dengan lantang. Ia tampak lega sekali. Para penduduk kota pun tersenyum lalu berteriak-teriakan rusuh. Mereka berterimakasih kepada Kupaba karena telah menyelamatkan mereka. Mereka juga mulai percaya bahwa ‘panda’ yang lucu itu adalah sesama penghuni bumi meskipun dari tempat yang berbeda.

Keluar dari balai kota, tampak barang-barang berserakan. Para warga kota saling berjanji untuk melakukan kerja bakti keesokan harinya.

Nuno menghampiri Kupaba. “Kupa, gimana cara kamu bisa pulang? Pod kamu, kan, rusak,” ujar Nuno.

“Jangan khawatir, No,” kata Kupaba. “Pod aku ini bisa memperbaiki dirinya sendiri. Hebat, kan?”

“Uh, ya,” jawab Nuno.

Penduduk kota beramai-ramai mengikuti Nuno dan Kupaba untuk mengantar Kupaba pulang. Sebelum masuk ke rumah Nuno, Kupaba berhenti sebentar untuk berbicara dengan mereka. “Terima kasih sekali lagi untuk kalian semua. Sebelum aku pergi, aku mau berpesan, agar besok-besok, kalian harus hemat karbon dioksida dulu yah. Kurangi polusi udara, terus tanami banyak pohon,” kata Kupaba.

Penduduk kota pun berjanji. Sambil melambaikan tangan, Kupaba pun masuk ke dalam rumah Nuno ke dalam kamar mandi lalu duduk di dalam pod-nya. Ia melesat ke dalam perut bumi.






Comments

Popular posts from this blog

Kostum dan Glide - Fitur pada Scratch

Deskripsi Bagian Depan Rumah

Mamaku