Kena Covid, Deh!
Matyo dan Naomi menyaksikan van hitam membawa tiga orang itu ke rumah sakit. Matyo dan Naomi tidak akan bertemu mereka dalam dua minggu ke depan. Kakak-beradik itu akan di rumah sendirian, tanpa ditemani siapapun. Ibu, ayah, serta nenek dari Matyo dan Naomi telah dinyatakan positif virus COVID-19 yang membahayakan.
Matyo berumur 12, sedangkan adiknya, Naomi, berumur 9 tahun. Mereka tinggal di kawasan perumahan yang sepi dan terisolasi dari tempat-tempat yang lain. Keluar rumah pun harus melewati rawa dan semak-semak raksasa yang tajam dan berduri. Keluarga mereka baru saja pindah ke rumah yang termurah di rumah123.com ini, akibat rumah yang terakhir ditemukan terbakar setelah mereka pulang dari mal. Tak ada yang tahu penyebabnya.
Beberapa hari sebelumnya, kedua orang tua Matyo dan Naomi masih bolak balik ke kantor tanpa istirahat. Para karyawan di sana wajib untuk hadir fisik setiap hari. Banyak acara yang tetap diselenggarakan, hingga akhirnya mereka terpapar corona, lalu nenek mereka pun kena, di hari berikutnya. Setelah keluar hasilnya bahwa ibu, ayah, dan nenek positif, Tim Gugus Tugas Covid langsung menjemput mereka untuk diantar ke Rumah Sakit Taman Trofdal.
Kini.
“Naomi sekarang ngapain ya, Kak?” tanya Naomi.
“Sekolah, dong,” jawab Matyo. “Ayo, masuk Zoom. Udah telat, nih, nanti guru-guru kita bakal emosi.”
“Naomi akan segera masuk kelas, Kak,” ucap Naomi yang tersenyum lebar, membuka laptopnya.
Matyo bergegas ke kamarnya, meninggalkan Naomi sendirian. Ia tegang. Akan ada ujian matematika hari ini, mata pelajaran tersulit di dunia (baginya, sih begitu). Jadi, Matyo butuh privasi.
Beberapa jam kemudian.
“Naomi sangat lapar, Kak. Kita makan apa?” seru Naomi dari ruang tamu.
“Uhh, ada Indomie, sih. Masak aja,” jawab Matyo yang masih ujian.
“Oh …, Kakak tidak masak untuk Naomi?”
“Enggak dong. Kan Kakak masih ujian, Nao,” kata Matyo.
“Pih,” celetuk Naomi, amarah langsung menghantam. Naomi menuju ke kamarnya sambil merengut. Suara hentakan kedua kakinya begitu berisik. Ia meraih Gloglo, boneka jerapah buatan Matyo, lalu membanting pintu.
Matyo menghela napas. Setelah menyelesaikan ujian, dia langsung menuju dapur untuk memasak indomie. Setelah makan, Naomi ceria kembali.
Hari menjelang malam. Matyo menyalakan lampu-lampu di dalam dan di luar rumah lalu menutup tirai. Udara semakin dingin. Matyo membaca novel, sedangkan Naomi bermain dengan Gloglo. Tak lama kemudian, Matyo menutup bukunya.
“Udah jam sembilan nih, Kakak ngantuk,” kata Matyo. “Tidur aja yuk.”
“Naomi tidak mau tidur, Kak,” ucap Naomi. “Naomi usul, kita main sesuatu. Ular tangga saja.”
“Kan waktunya tidur,” ujar Matyo.
Naomi merengut lagi.
“Ya udah, ya udah, kita main sebentar.” Matyo mengalah.
Mereka pun memulai permainan. Ternyata seru juga bermain ular tangga. Saking asyiknya, tak terasa waktu sudah hampir tengah malam.
Tiba-tiba terdengarlah suara ketukan di pintu belakang.
Tok tok tok tok tok ….
Matyo dan Naomi berpandang-pandangan. Rasa takut mulai menghampiri.
“Itu siapa, Kak? Datang malam-malam, ngetok-ngetok? Naomi enggak suka!” seru Naomi.
“Ssst …!” bisik Matyo. Matyo mengajak Naomi ke ruang kamar untuk bersembunyi. Setelah menunggu di kamar beberapa lama, terdengar lagi suara-suara dari pintu belakang. Sepertinya ada yang hendak mencongkel pintu. Kakak-beradik itu panik. Tiba-tiba Matyo mendapat akal. Ia meraih pulpen dan secarik kertas lalu mulai menulis:
Anak-anak, jangan lupa ya:
- Matikan lampu dan air kalau tidak digunakan
- Cuci tangan dan minum vitamin
- Kalau mau pergi ke luar, kuncilah ruang kerja papa, karena semua perhiasan mama ada di situ, di kotak rahasia di balik jam dinding di atas sofa (Mama)
“Wah, ide brilian itu, Kak! Nanti kalau mereka ke ruang kerja papa, kita kunci dari luar!” ucap Naomi. “Sini, Naomi yang taruh kertasnya di pintu kulkas.”
Naomi pun menyelinap ke luar kamar dan menuju dapur. Suara-suara maling terdengar masih di ruang belakang. Kertas yang tadi ditempelkan Naomi di kulkas dengan magnet yang bertuliskan, ‘San Fransisco’.
Setelah itu, ia menuju kamar tidur tamu, ruang terdekat di samping kantor papa. Matyo sudah berada di situ. Sekarang mereka hanya bisa menunggu dan berharap rencana mereka berhasil.
Benar saja, tak lama kemudian, terdengar suara para maling di dapur lalu kemudian menuju ke ruang kerja papa. Tanpa membuang-buang waktu, Matyo langsung mengunci ruang itu dari luar. Naomi pun langsung menelepon polisi.
Mendengar suara pintu yang dikunci, para maling tersentak dan spontan berteriak sambil berusaha membuka pintu. “Hei …! Buka pintunyaa …!” Mereka pun menggedor-gedor pintu dengan berisiknya.
“Shhht …!” salah satu maling berusaha menenangkan rekannya. “Itu, ada jendela. Pasti kita bisa keluar dari situ. Ayo, ambil saja perhiasannya, setelah itu kita langsung pergi.”
Lalu, si maling yang pertama mengangguk dan menuju jam dinding yang berwarna coklat tua. Dia merenggut jam dinding itu dari tempatnya. Tanpa disangka, ternyata bukan kotak perhiasan yang nampak, melainkan puluhan tikus menjijikan yang langsung menggigit hidungnya. Si maling pun berteriak-teriak, panik dan ketakutan. Maling kedua berusaha menolong temannya, namun apa daya? Jempolnya kakinya malah digigit tikus! Kedua maling itu menjerit-jerit tanpa henti.
Matyo dan Naomi yang mendengar keributan itu dari ruang sebelah cekikikan. Mereka gembira, rencana berhasil!
Tak lama kemudian, polisi pun tiba di rumah itu. Matyo menceritakan apa yang terjadi. Pak Polisi membuka pintu ruang kerja papa. Tikus-tikus menyeramkan berkeliaran di mana-mana. Para maling diborgol dan dibawa ke mobil polisi. Pak Polisi pun memuji akal dan keberanian Matyo dan Naomi. “Bravo, Anak-Anak. Berkat kalian, maling yang sudah lama meresahkan masyarakat ini akhirnya bisa tertangkap. Terima kasih, ya.”
“Terima kasih, Pak Polisi,” ujar Matyo dan Naomi serempak.
Rombongan polisi pun berangkat menuju kantor polisi.
Matyo dan Naomi melambai-lambaikan tangan. Ternyata seru juga, di rumah sendiri tanpa orang dewasa.
Comments
Post a Comment